Senin, 24 Desember 2018

Membangun Kesadaran diri dan Resiliensi Psikologis dengan Internet

Image result for melihat komputer

Pada era digital ini, metode pembelajaran, metode mencari informasi menjadi semakin mudah dikarenkannya perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sekarang ini pembelajaran bukan hanya bisa dilaksanakan dengan tatap muka dikelas, namun sudah memiliki teknologi yang dikembangkan oleh Google yang bernama “Google Classroom”. Google classroom merupakan kelas yang diadakan secara online dengan cara peserta didik login ke akun gmail dan masuk kedalam kelas tersebut. Proses bekerjanya kelas tersebut biasanya pendidik akan memberikan instruksi di dalam kelas tersebut seperti tentang penugasan secara online, ujian online, ataupun memberikan materi pengajaran secara online. Pendidik dapat mendapatkan informasi dari internet, internet merupakan sistema jaringan komputer global yang memungkinkan terjadinya komunikasi dari pengguna ke pengguna (Widayat et al., 2018). Melalui jaringan internet tersebut pengguna komputer yang memiliki izin bisa mendapatkan informasi dari komputer dari tempat lain. Seperti yang banyak diketahui metode pembelajaran sekarang telah berfokus pada pendidik yang mencari literasi sendiri atau pada pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang menekankan pada pembelajaran sendiri.
             Menurut Knowles (dalam Sujarwo, n.d.) andragogi merupakan seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar. Darkenwald dan Meriam (dalam Malik, 2008) memandang bahwa seseorang dikatakan dewasa apabila telah melewati masa pendidikan dasar dan telah memasuki usia kerja, sejak umur 16 tahun. John D Ingals memberikan batasasan bahwa pendidikan orang dewasa merupakan suatu cara pendekatan dalam proses belajar orang dewasa, pembelajaran ini menekankan kepada teknik belajar bagi orang dewasa sehingga orang dewasa sanggup dan mau belajar sesuai dengan tujuan yang dicapai (dalam Sunhaji, 2013). Seperti yang telah disebutkan oleh Drakenwald dan Meriam kategori orang dewasa adalah seseorang telah memasuki usia kerja yaitu 16 tahun, sedangkan seorang mahasiwa semester satu biasanya berumur 17-18 tahun, dapat disimpulkan bahwa seorang mahasiswa telah berada pada tahapan orang dewasa.
            Sebagai seorang mahasiswa yang telah berada di tahapan dewasa, seharusnya pembelajaran mandiri tersebut tidaklah sulit, dikarekanakan pada perkuliahan juga menerapkan begitu banyak pembelajaran mandiri di luar kelas atau bahkan banyak dilaksanakan kelas online. Namun dalam pembelajaran akademik sering sekali mahasiswa tidak terdorong untuk belajar mandiri dikarenakan tidak termotivasi untuk mencari tahu informasi yang ada, dan menunggu diberikan informasi saja. Seharusnya sebagai seseorang yang sudah dewasa sadar dan mampu dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai, dalam mencapai suatu tujuan tentu saja diperlukan sumber-sumber informasi untuk berkembang. Selain motivasi yang dibutuhkan untuk berkembang, juga dibutuhkan kemampuan resiliensi yang baik dalam mencari informasi. Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan dan beradaptasi, serta kapasistas manusia untuk menghadapi dan memecahkan masalah ketika mengalami kesusahan (Hendriani, 2018).
            Era digital ini telah memiliki seluruh hal kita inginkan, dari informasi hingga mencari pertemanan juga dapat dilakukan dengan internet, namun realitanya kemudahan yang diberikan pada era ini membuat mahasiswa menjadi semakin malas untuk mencari informasi berkenaan dengan akademik. Mahasiswa sekarang banyak menggunakan internet untuk menggunakan sosial media, tidak salah dalam menggunakan sosial media namun harus menggunakannya dengan cara yang tepat. Misalnya mencari informasi-informasi terbaru tentang pendidikan atau mencari informasi terkini yang dapat mengembangkan diri. Banyak sekali orang menggunakan sosial media untuk ajang memamerkan diri, menggunakan sosial media untuk melakukan bully, berkomentar yang tidak sepantasnya dan penggunaan negatif lainnya. Kebiasaan-kebiasaan seharusnya sudah ditinggal dan melakukan hal positif dan dapat mengembangkan diri dan bermanfaat bagi orang lain.
            Pembelajaran digital sekarang seperti kelas online, harus di biasakan dari masa sekolah agar peserta didik terbiasa dengan mencari informasi secara mandiri hanya dengan arahan yang diberikan oleh pendidik. Dengan timbul kebiasaan baik untuk mencari tahu informasi sendiri akan menjadi lebih mudah melaksanakannya pada saat di bangku perkuliahaan, karena pada saat masa kuliah banyak sekali perkuliahan yang memiliki tatap muka di kelas namun dosen hanya menjelaskan pengantar materinya dan memberikan instruksi tertentu. Dengan kemampuan yang telah dibiasakan pada saat sekolah akan menjadi lebih mudah bagi seorang mahasiswa untuk mencari informasi. Mahasiswa psikologi USU sering sekali hanya mencari informasi ketika hanya didesak oleh dosen atau hanya dibutuhkan saja, misalnya ketika mengerjakan skripsi ia baru mencari informasi yang dibutuhkan kan, atau baru pertama kali menginjakkan kaki ke perpustakaan, mengapa hal tersebut terjadi? Di karenakan tidak adanya dorongan diri sendiri untuk mencari tahu sebelum di desak oleh keadaan. Seharusnya sebagai mahasiswa yang telah berada ditahap dewasa sadar dengan tahapan tersebut dan bertindak selayaknya orang dewasa yang mencari tahu informasi yang mungkin saja dapat membantu dirinya tanpa di desak oleh keadaan.
            Internet memiliki fungsi yang sangat besar, misalnya ketika merasa terpuruk dengan keadaan kita, memiliki masalah dalam mengatasi masalah ktia dapat mencarinya di internet bagaimana solusinya ataupun kita membaca cerita positif dari orang yang mampu melewati sebuah tantangan yang besar. Cerita yang positif tersebut dapat membuat diri kita terbuka dan lebih bersyukur dengan keadaan kita, ternyata ada orang lain yang lebih terpuruk dari kita mampu bertahan mengapa diri kita tidak bisa bertahan. Setelah kita sadar dan bangun kembali berjuangan menghadapi masalah kita, internet lah yang telah membantu kita untuk membangun diri kita. Pergunakanlah internet untuk hal yang positif agar dapat membangun diri kita, bangunlah rasa ingin tahu yang tinggi tentang apa yang baru di luar sana, dan ingatlah bahwa diri kita sendiri yang membuat pilihan untuk kita selalu bertahan dan maju atau kita berhenti dan berdiam diri

DAFTAR PUSTAKA
Hendriani, W. (2018). Resiliensi Psikologis sebuah pengantar (Edisi Pert). Jakarta: Kencana.
Malik, H. K. (2008). TEORI BELAJAR ANDRAGOGI DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN Halim K. Malik Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo. Inovasi, 5(2), 1–16.
Sujarwo. (n.d.). Strategi Pembelajaran Partisipatif Bagi Belajar Orang Dewasa, 1–10. Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article.php?article=353639&val=454&title=STRATEGI PEMBELAJARAN PARTISIPATIF BAGI BELAJAR ORANG DEWASA (PENDEKATAN ANDRAGOGI)
Sunhaji. (2013). KONSEP PENDIDIKAN ORANG DEWASA, 1(1), 1–11. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/103878-ID-konsep-pendidikan-orang-dewasa.pdf
Widayat, I. W., Dian, A. A., Wiwin, H., Amelia, Z. R., Cahyono, R., & Wicaksono, D. A. (2018). Keterampilan belajar (study skills) untuk mahasiswa (Edisi Pert). Jakarta: Kencana.

Selasa, 11 Desember 2018

Media Massa Menjadi Faktor Pendorong Pemebegalan







Maraknya kasus begal dimedan meresahkan masyarakat, menurut  Kriminolog dari FISIP UI Bambang Widodo Umar terdapat 4 faktor maraknya begal yang pertama adalah maraknya budaya konsumerisme dan materialisme. aIndustri gadget dan otomotif (sepeda motor) menjadi sebuah tren yang harus senantiasa diikuti, faktor kedua adalah media, khususnya film serta games. Baik film, sinetron, ataupun permainan banyak yang menampilkan adegan kekerasan secara vulgar yang seolah mengajari penontonnya untuk bisa melakukan hal tersebut, ketiga adalah lemahnya pengawasan sosial, satu sama l saat ini kurang peduli, yang terakhir adalah kondisi perekonomian negara yang masih belum cukup baik, harga kebutuhan pokok meningkat, berbanding terbalik dengan penghasilan (Arjawinangun, 2015 dalam Sindonews). Namun kasus yang ditemukan dimedan adalah kegiatan pembegalan ini terjadi dikarenakan faktor ekonomi, Herry (29) sebagai pelaku begal ditangkap Unit Reskrim Polsek Medan Barat yang sudah sering melakukan aksi kejahatan dan pelaku mengaku bahwa ia melakukan aksi kejahatan tersebut dikarenakan kebutuhan ekonomi. Pelaku tersebut mengaku telah melakukan aksi pembegalan tersebainut sebanyak 7 kali (Argus, 2017 dalam Tribunnews). Pernyataan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu dasar dari aksi pembegalan ini juga di nyatakan oleh Kriminolog dari Universitas Muhammadiyah Sumatera USU (UMSU) Alfi Syahri, yang menyatakan bahwa kejahatan timbul karena disebabkan oleh beberapa faktor, faktor pertama adalah ekonomi, lalu ada kesempatan dan peluang, kemudian narkoba yang membuat candu. (Santama, 2017 dalam Detik).

     Dengan angka kemiskinan yang tinggi pada regional Sumatera Utara dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2016 (maret) sebanyak 398408 dan meningkat menjadi 425693 pada 2017 (maret) dengan angka kemiskinan yang meningkat tinggi dapat memicu terjadi aksi pembegalan tersebut. Karena yang sudah dikatakan oleh Kriminolog UMSU faktor utama dari aksi ini adalah karena faktor ekonomi. Dari faktor ekonomi yang rendah tersebut dapat memicu aksi pembegalan tersebut. Lembaga survei terkemuka, Indonesia Research Center (IRC) merilis 10 kota paling tidak aman di Indonesia pada tahun 2016 bahwa Kota medan mendapat urutan pertama untuk kota paing tidak aman di Indonesia (Purnomo, 2016 dalam Analisadaily). Hasil survei ini selaras dengan yang di alami oleh Kamtibnas Kota Medan yang sangat rawan, aksi tersebut bukan hanya terjadi pada malam hari dan pada lokasi sepi dan gelap saja, namun begal di Medan saat ini tidak takut untuk beraksi di siang hari bahkan di pusat kota. Seperti kasus yang terjadi pada tahun 2016 di Jl. Imam Bonjol depan Vihara Borobudur, pelaku begal beraksi dengan mengendarai sepeda motor dan mengincar seorang wanita yang menggendarai motor metik, pelaku tersebut menarik tas korban hingga korban terjatuh dari kendaraanya sehingga korban mengalami luka serius di bagian wajah dan kejadian ini terjadi pada siang hari dan dijalan yang cukup ramai.
     Aksi pembegalan sekarang terjadi di medan sudah tidak melihat waktu apakah siang dan malam, aksi pembegalan tersebut dapat terjadi kapan saja dan masyarakat juga tidak tahu pasti kapan aksi itu akan terjadi. Dikutip dari akun resmi instagram dari Polrestabes Medan terdapat 11 jalan yang rawan begal di kota Medan, diantaranya Jalan Kapten Pattimura dekat Swalayan VIGO Bekas SPBU Petronas, Jalan Amir Hamzah (Griya), Jalan Luku Sekolah Al-Azhar, dan Kebun Binatang Medan Zoo hingga ke Simalingkar B. Jalan Ir H Juanda, Jalan Sunggal Dekat SMA 15 Medan, dekat PDAM Tirtanadi dan yang ke arah Pajak Melati, Jalan Imam Bonjol mulai dari Bank Mandiri sampai dengan Sekolah Harapan. Selanjutnya, Jalan Ringroad terutama yang tembus Jalan Abadi dan Jalan Perjuangan Setia Budi, Jalan Sei Serayu, Jalan Gaperta terutama yang tembus ke Jalan sekip dan Jalan Karya, Pasar III Setia budi dan yang ke Jalan Padangbulan. Jalan Mongonsidi terkhusus samping KFC, jembatan bundaran Hotel Pardede, dan yang dari Jalan Mustang tembus ke eks Bandara Polionia, dan jalan-jalan lain yang terlihat sunyi sepi dan kurang penerangannya. (Kahfi, 2017 dalam Tribunnews)

     Namun bagaimana keadaan korban dari aksi pembegalan tersebut? Ada yang menjadi takut untuk berpergian, takut untuk berkendara, dan takut untuk keluar dari rumah, salah satu kasus trauma yang terjadi pada personel boyband SMASH Bisma Karisma ia menjadi korban pembegalan akibat peristiwa pembegalan tersebut ia kehilangan sebagian jari telunjuk kirinya yang terjadi pada tahun 2007 lalu di Bandung, dan ia menyatakan bahwa ia masih mengalami sedikit trauma dengan bunyi knalpot dari motor tersebut karena kejadian tersebut membuat ia takut untuk mengendarai sepeda motor kembali (Nur, 2016 dalam Jawapos).

   Salah satu faktor yang menarik dari timbulnya perilaku begal adalah melalui media yang menimbulkan sifat agresi. Seperti dilansir Kompas,anak cenderung meniru apa yang ditonton mereka. Manusia sendiri memiliki kemampuan mengingat 50% dari apa yang mereka lihat,hal ini didukung oleh teori social learning dimana anak cenderung meniru apa yang ia lihat.Jika dibiarkan anak akan mengalami masalah perkembangan dan tumbuh menjadi pribadi yang menganggap kekerasan sebagai hal yang normal layaknya perilaku begal. Seperti kasus ang terjadi di Semarang, Jawa Tengah pengakuan kelompok begal yang beranggotakan remaja usia 14 tahum hingga 18 tahun yang melakukan aksi ini bukan karena latar belakang ekonomi, namun mereka melakukannya untuk melampiaskan nafsu kekerasan yang mereka sebut sebagai “hiburan” (Beritasatu, 2015). Setelah ditelusuri ternyata anak remaja tersebut sering mengonsumsi tontonan yang memiliki banyak konten kekerasan, bermain games yang bertema dengan kekerasan, yang dapat memicu timbulnya agresi dari remeja tersebut mereka melihat korban tersiksa dan mereka merasa sangat puas/ bahagia dengan melihat korban tersebut tersiksa.


Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. Garis Kemiskinan Menurut Provinsi, 2013-2017. Dari https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1120 



Beritasatu, (2015). Pengaruh Kekerasan Jangan Dianggap Remeh. Dari : http://sp.beritasatu.com/home/pengaruh-kekerasan-jangan-dianggap-remeh/81460 



Kahfi, M. A., (2017). Waspada Ini Jalan Di Kota Medan Yang Menurut Polisi Rawan Begal. Dari : http://medan.tribunnews.com/2017/10/10/waspada-ini-jalan-di-kota-medan-yang-menurut-polisi-rawan-begal 



Kartila, I., (2012). Anak-Anak Cenderung Meniru Adegan Di Televisi. Dari : http://lifestyle.kompas.com/read/2012/05/28/22490165/Anak-anak.Cenderung.Meniru.Adegan.di.Televisi 



Nur, M., (2016). Jadi Korban Begal Motor, Bisma SMASH Masih Trauma. Dari : https://www.jawapos.com/read/2016/08/08/43680/jadi-korban-begal-motor-bisma-smash-masih-trauma- 



Purnomo, S., (2016). Medan Peringkat Satu Kota Tidak Aman. Dari : http://harian.analisadaily.com/opini/news/medan-peringkat-satu-kota-tidak-aman/261246/2016/09/06 




Senin, 10 Desember 2018

Menjalani Hidup yang Bahagia Dengan Berpikir Positif

         

    


Semua orang tentu saja ingin bahagia namun, kebahagiaan dapat diperoleh dengan berbagai cara, seperti selalu bersyukur, belajar dari pengalaman masa lalu, berhenti berpikir berlebihan dan lainnya. Menurut Aristoteles (Seligman, 2002)bahwa seluruh tindakan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Ketika kita berpikir kita tidak akan bahagia, dan kita meyakini bahwa hidup kita tidak akan bahagia maka hal tersebut akan terjadi sebagaimana diinginkan. Menurut Seligman (Seligman, 2002) bahwa kebahagiaan merupakan konsep yang mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktifitas positif yang tidak mempunyai komponen perasaan sama sekaliKebahagiaan tersebut dapat berasal dari dalam diri kita, atau pun dari lingkungan sekitar. Emosi positif yang berada di lingkungan kita akan mempengaruhi perasaan kita. Ketika kita berada dilingkungan yang penuh dengan emosi positif, kita juga akan merasakan dampak dari emosi positif tersebut, seperti saat kita bercengkrama atau bercerita cerita lucu dengan teman-teman kita saat merasa terdapat cerita lucu kita terpancing untuk melakukan tawa dengan teman kita, dan kita merasa sangat lega dan bahagia dengan keadaan tersebut.Bagi sebagian orang, memiliki banyak uang, mampu memiliki apa saja yang ia inginkan merupakan sebuah rasa bahagia, namun untuk sebagian orang lainnya dengan bersyukur dengan keadaan atau kondisi yang ia jalani sekarang dapat memberikannya kebahagiaan. Menurut Argyle (Argyle, 2001) bahwa kebahagiaan itu dilihat dengan menyeluruh seperti dari hubungan sosial, pekerjaan dan rekreasi.

          Perasaan bahagia yang kita alami akan membawa kita ke hal yang positif, mood positif, berpikir dengan positif dan atktiftas yang lebih positif. Berpikir positif memiliki tujuan untuk menguatkan cara pandang (dalam Elfiky, 2018) seperti contoh seorang perokok yang membenarkan pendapatnya merokok karena individu tersebut yakin bahwa rokok dapat menenangkan saraf dan membuat dirinya stabil, dengan alasan tersebut iya merokok agar ia tetap stabil. Walaupun dengan pandangannya ia merasa benar namun hasilnya negatif. Menurut Elfiky (2018) individu dengan kepribadian yang selalu berpikir berpositif akan menjalani hidup dengan damai, tenang, dan bahagia. Ketika seseorang berusaha untuk berpikir positif, seperti orang yang sedang mengidap penyakit dan ia selalu berusaha untuk berpikir positif bahwa ia dapat sembuh atau ia sedang proses penyembuhan dengan berpikir hal yang positif tersebut dengan berulang sehingga menjadi timbul kebiasaan dari individu tersebut untuk selalu berpikir positif. Individu yang selalu berpikir negatif dalam hidupnya akan berisikan penderitaan dan kesulitan (dalam Elfiky, 2018). Pikiran negatif sangat mudah sekali untuk berkembang karena seseorang cenderung menyerah dengan permasalahan yang ia hadapi dan tidak mencoba untuk berpikir positif bahwa semua masalah memiliki jalan keluarnya.

          Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat; antara yang positif dan yang negatif, otak dapat mampu memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihannya. Dalam quwwat al-Tahakkhum fi al-Dzat (dalam Elfiky, 2018) menyatakan bahwa hari ini tergantung pada pikiran yang datang saat ini, besok ditentukan oleh kemana pikiran membawa kita. Dapat diartikan bahwa pikiran yang mengatur bagaiamana kehidupan kita. Pada buku Aladdin Factor (dalam Elfiky, 2018) disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran, yang dibutuhkan oleh pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif, sebaliknya jika arah tersebut ke hal positif makan yang akan keluar dari ruang memori adalah ke arah yang positif dan pada suatu penelitian Fakultas Kedokteran di Amerika menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif dan dalam hitungannya terdapat 48.000 pikiran negatif setiap hari, semua itu turut memengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit.





Daftar pustaka

Argyle, M. (2001). The psychology of happiness (2nd ed.). The Psychology of Happiness (2nd Ed.). https://doi.org/10.4324/9781315812212

Elfiky, Ibrahim. (2018). Terapi Berpikir Positif. Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta.

Seligman, M. E. P. (2002). Authentic Happiness Using the New Positive Psychology to Realise Your Potential for Lasting Fulfilment. Ebl. https://doi.org/10.1073/pnas.85.8.2633


Selasa, 23 November 2010

Perayaan Hari Guru

 
 Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.

Daftar isi


 

Hari guru di berbagai negara

Amerika

Hari peringatan wafatnya Domingo Faustino Sarmiento, seorang pendidik dan politisi Argentina.
  • Brazil: 15 Oktober (sejak 1963)
Pertama kali dirayakan tahun 1947 di São Paulo oleh sejumlah guru dari sebuah sekolah kecil. Tanggal 15 Oktober disepakati sebagai hari guru karena pada tanggal tersebut, Dom Pedro I menyetujui dekrit penataan kembali sekolah dasar di Brazil.
Pada tahun 1974, tanggal 10 Desember disepakati sebagai hari guru karena penyair Chili Gabriela Mistral menerima Penghargaan Nobel pada 10 Desember 1945. Sejak tahun 1977, hari guru diubah menjadi tanggal 16 Oktober untuk memperingati berdirinya Institut Guru Chili (Colegio de Profesores de Chile).[1]
  • Meksiko: 15 Mei (sejak 1918)
  • Peru: 6 Juli (sejak 1953)
Pejuang kemerdekaan José de San Martín mendirikan sekolah umum untuk laki-laki setelah José Bernardo de Tagle meloloskan resolusi pendidikan pada 6 Juli 1822.[2]

Asia

Peringatan hari guru (bahasa Tagalog: Araw ng mga Guro) ditetapkan tanggal 5 Oktober berdasarkan Perintah Presiden No. 479.[3] Walaupun demikian, hari guru biasanya dirayakan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah sekitar bulan September dan Oktober.
  • Hong Kong: 10 September (hingga 1997: 28 September)
  • India: 5 September
Hari ulang tahun Presiden India Dr. Sarvapalli Radhakrishnan yang juga seorang guru ditetapkan sebagai hari guru. Di sekolah-sekolah diadakan perayaan, dan murid yang paling senior memainkan peran sebagai guru.
Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.[4]
Peringatan wafatnya Morteza Motahari sebagai martir pada 2 Mei [[1979].
Hari guru dirayakan sejak tahun 1963 di Seoul, dan sejak tahun 1964 di kota Chuncheon. Perayaan ini dimulai oleh sekelompok anggota palang merah remaja yang mengunjungi guru-guru yang sedang sakit di rumah sakit. Perayaan hari guru secara nasional tidak dilangsungkan dari tahun 1973 hingga 1982, dan baru dilanjutkan kembali sejak 1983. Guru menerima hadiah bunga anyelir.
Tanggal 16 Mei ditetapkan sebagai Hari Guru di Malaysia, karena pada 16 Mei 1956, Majelis Undang-Undang Persekutuan Tanah Melayu menerima rancangan kurikulum dari Laporan Jawatankuasa Pelajaran.
Murid-murid biasanya memberikan hadiah balas jasa kepada guru, seperti kartu ucapan dan bunga.
Perayaan dilakukan sehari sebelumnya, dan murid-murid dipulangkan lebih awal.
Hari libur sekolah untuk mengunjungi guru dan mantan guru di rumah masing-masing.

Eropa

Sejak tahun 1994, hari guru dirayakan tanggal 5 Oktober bertepatan dengan Hari Guru Sedunia. Dari tahun 1965 hingga 1993, hari guru dirayakan pada minggu pertama di bulan Oktober.

    Membangun Kesadaran diri dan Resiliensi Psikologis dengan Internet

    Pada era digital ini, metode pembelajaran, metode mencari informasi menjadi semakin mudah dikarenkannya perkembangan teknologi yang begi...