
Pada era digital ini, metode pembelajaran, metode mencari informasi menjadi semakin mudah dikarenkannya perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sekarang ini pembelajaran bukan hanya bisa dilaksanakan dengan tatap muka dikelas, namun sudah memiliki teknologi yang dikembangkan oleh Google yang bernama “Google Classroom”. Google classroom merupakan kelas yang diadakan secara online dengan cara peserta didik login ke akun gmail dan masuk kedalam kelas tersebut. Proses bekerjanya kelas tersebut biasanya pendidik akan memberikan instruksi di dalam kelas tersebut seperti tentang penugasan secara online, ujian online, ataupun memberikan materi pengajaran secara online. Pendidik dapat mendapatkan informasi dari internet, internet merupakan sistema jaringan komputer global yang memungkinkan terjadinya komunikasi dari pengguna ke pengguna (Widayat et al., 2018). Melalui jaringan internet tersebut pengguna komputer yang memiliki izin bisa mendapatkan informasi dari komputer dari tempat lain. Seperti yang banyak diketahui metode pembelajaran sekarang telah berfokus pada pendidik yang mencari literasi sendiri atau pada pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang menekankan pada pembelajaran sendiri.
Menurut Knowles (dalam Sujarwo, n.d.) andragogi merupakan seni dan ilmu dalam membantu
peserta didik (orang dewasa) untuk belajar. Darkenwald dan Meriam (dalam Malik, 2008) memandang bahwa seseorang dikatakan dewasa
apabila telah melewati masa pendidikan dasar dan telah memasuki usia kerja,
sejak umur 16 tahun. John D Ingals memberikan batasasan bahwa pendidikan orang
dewasa merupakan suatu cara pendekatan dalam proses belajar orang dewasa,
pembelajaran ini menekankan kepada teknik belajar bagi orang dewasa sehingga
orang dewasa sanggup dan mau belajar sesuai dengan tujuan yang dicapai (dalam Sunhaji, 2013). Seperti yang telah disebutkan oleh Drakenwald
dan Meriam kategori orang dewasa adalah seseorang telah memasuki usia kerja
yaitu 16 tahun, sedangkan seorang mahasiwa semester satu biasanya berumur 17-18
tahun, dapat disimpulkan bahwa seorang mahasiswa telah berada pada tahapan
orang dewasa.
Sebagai seorang mahasiswa yang telah
berada di tahapan dewasa, seharusnya pembelajaran mandiri tersebut tidaklah
sulit, dikarekanakan pada perkuliahan juga menerapkan begitu banyak
pembelajaran mandiri di luar kelas atau bahkan banyak dilaksanakan kelas online. Namun dalam pembelajaran akademik
sering sekali mahasiswa tidak terdorong untuk belajar mandiri dikarenakan tidak
termotivasi untuk mencari tahu informasi yang ada, dan menunggu diberikan
informasi saja. Seharusnya sebagai seseorang yang sudah dewasa sadar dan mampu
dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai, dalam mencapai suatu tujuan tentu
saja diperlukan sumber-sumber informasi untuk berkembang. Selain motivasi yang
dibutuhkan untuk berkembang, juga dibutuhkan kemampuan resiliensi yang baik
dalam mencari informasi. Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk
bertahan dan beradaptasi, serta kapasistas manusia untuk menghadapi dan
memecahkan masalah ketika mengalami kesusahan (Hendriani, 2018).
Era digital ini telah memiliki
seluruh hal kita inginkan, dari informasi hingga mencari pertemanan juga dapat
dilakukan dengan internet, namun realitanya kemudahan yang diberikan pada era
ini membuat mahasiswa menjadi semakin malas untuk mencari informasi berkenaan
dengan akademik. Mahasiswa sekarang banyak menggunakan internet untuk
menggunakan sosial media, tidak salah dalam menggunakan sosial media namun
harus menggunakannya dengan cara yang tepat. Misalnya mencari
informasi-informasi terbaru tentang pendidikan atau mencari informasi terkini
yang dapat mengembangkan diri. Banyak sekali orang menggunakan sosial media
untuk ajang memamerkan diri, menggunakan sosial media untuk melakukan bully, berkomentar yang tidak sepantasnya
dan penggunaan negatif lainnya. Kebiasaan-kebiasaan seharusnya sudah ditinggal
dan melakukan hal positif dan dapat mengembangkan diri dan bermanfaat bagi
orang lain.
Pembelajaran digital sekarang
seperti kelas online, harus di
biasakan dari masa sekolah agar peserta didik terbiasa dengan mencari informasi
secara mandiri hanya dengan arahan yang diberikan oleh pendidik. Dengan timbul
kebiasaan baik untuk mencari tahu informasi sendiri akan menjadi lebih mudah
melaksanakannya pada saat di bangku perkuliahaan, karena pada saat masa kuliah
banyak sekali perkuliahan yang memiliki tatap muka di kelas namun dosen hanya
menjelaskan pengantar materinya dan memberikan instruksi tertentu. Dengan
kemampuan yang telah dibiasakan pada saat sekolah akan menjadi lebih mudah bagi
seorang mahasiswa untuk mencari informasi. Mahasiswa psikologi USU sering
sekali hanya mencari informasi ketika hanya didesak oleh dosen atau hanya
dibutuhkan saja, misalnya ketika mengerjakan skripsi ia baru mencari informasi
yang dibutuhkan kan, atau baru pertama kali menginjakkan kaki ke perpustakaan,
mengapa hal tersebut terjadi? Di karenakan tidak adanya dorongan diri sendiri
untuk mencari tahu sebelum di desak oleh keadaan. Seharusnya sebagai mahasiswa
yang telah berada ditahap dewasa sadar dengan tahapan tersebut dan bertindak
selayaknya orang dewasa yang mencari tahu informasi yang mungkin saja dapat
membantu dirinya tanpa di desak oleh keadaan.
Internet memiliki fungsi yang sangat besar,
misalnya ketika merasa terpuruk dengan keadaan kita, memiliki masalah dalam
mengatasi masalah ktia dapat mencarinya di internet bagaimana solusinya ataupun
kita membaca cerita positif dari orang yang mampu melewati sebuah tantangan
yang besar. Cerita yang positif tersebut dapat membuat diri kita terbuka dan
lebih bersyukur dengan keadaan kita, ternyata ada orang lain yang lebih
terpuruk dari kita mampu bertahan mengapa diri kita tidak bisa bertahan.
Setelah kita sadar dan bangun kembali berjuangan menghadapi masalah kita,
internet lah yang telah membantu kita untuk membangun diri kita. Pergunakanlah
internet untuk hal yang positif agar dapat membangun diri kita, bangunlah rasa
ingin tahu yang tinggi tentang apa yang baru di luar sana, dan ingatlah bahwa
diri kita sendiri yang membuat pilihan untuk kita selalu bertahan dan maju atau
kita berhenti dan berdiam diri
DAFTAR PUSTAKA
Hendriani, W. (2018). Resiliensi Psikologis sebuah
pengantar (Edisi Pert). Jakarta: Kencana.
Malik, H. K. (2008). TEORI BELAJAR ANDRAGOGI DAN APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN Halim K. Malik Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Gorontalo. Inovasi, 5(2), 1–16.
Sujarwo. (n.d.). Strategi Pembelajaran Partisipatif Bagi
Belajar Orang Dewasa, 1–10. Retrieved from
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=353639&val=454&title=STRATEGI
PEMBELAJARAN PARTISIPATIF BAGI BELAJAR ORANG DEWASA (PENDEKATAN ANDRAGOGI)
Sunhaji. (2013). KONSEP PENDIDIKAN ORANG DEWASA, 1(1),
1–11. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/103878-ID-konsep-pendidikan-orang-dewasa.pdf
Widayat, I. W., Dian, A. A., Wiwin, H., Amelia, Z. R.,
Cahyono, R., & Wicaksono, D. A. (2018). Keterampilan belajar (study
skills) untuk mahasiswa (Edisi Pert). Jakarta: Kencana.




