Senin, 10 Desember 2018

Menjalani Hidup yang Bahagia Dengan Berpikir Positif

         

    


Semua orang tentu saja ingin bahagia namun, kebahagiaan dapat diperoleh dengan berbagai cara, seperti selalu bersyukur, belajar dari pengalaman masa lalu, berhenti berpikir berlebihan dan lainnya. Menurut Aristoteles (Seligman, 2002)bahwa seluruh tindakan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Ketika kita berpikir kita tidak akan bahagia, dan kita meyakini bahwa hidup kita tidak akan bahagia maka hal tersebut akan terjadi sebagaimana diinginkan. Menurut Seligman (Seligman, 2002) bahwa kebahagiaan merupakan konsep yang mengacu pada emosi positif yang dirasakan individu serta aktifitas positif yang tidak mempunyai komponen perasaan sama sekaliKebahagiaan tersebut dapat berasal dari dalam diri kita, atau pun dari lingkungan sekitar. Emosi positif yang berada di lingkungan kita akan mempengaruhi perasaan kita. Ketika kita berada dilingkungan yang penuh dengan emosi positif, kita juga akan merasakan dampak dari emosi positif tersebut, seperti saat kita bercengkrama atau bercerita cerita lucu dengan teman-teman kita saat merasa terdapat cerita lucu kita terpancing untuk melakukan tawa dengan teman kita, dan kita merasa sangat lega dan bahagia dengan keadaan tersebut.Bagi sebagian orang, memiliki banyak uang, mampu memiliki apa saja yang ia inginkan merupakan sebuah rasa bahagia, namun untuk sebagian orang lainnya dengan bersyukur dengan keadaan atau kondisi yang ia jalani sekarang dapat memberikannya kebahagiaan. Menurut Argyle (Argyle, 2001) bahwa kebahagiaan itu dilihat dengan menyeluruh seperti dari hubungan sosial, pekerjaan dan rekreasi.

          Perasaan bahagia yang kita alami akan membawa kita ke hal yang positif, mood positif, berpikir dengan positif dan atktiftas yang lebih positif. Berpikir positif memiliki tujuan untuk menguatkan cara pandang (dalam Elfiky, 2018) seperti contoh seorang perokok yang membenarkan pendapatnya merokok karena individu tersebut yakin bahwa rokok dapat menenangkan saraf dan membuat dirinya stabil, dengan alasan tersebut iya merokok agar ia tetap stabil. Walaupun dengan pandangannya ia merasa benar namun hasilnya negatif. Menurut Elfiky (2018) individu dengan kepribadian yang selalu berpikir berpositif akan menjalani hidup dengan damai, tenang, dan bahagia. Ketika seseorang berusaha untuk berpikir positif, seperti orang yang sedang mengidap penyakit dan ia selalu berusaha untuk berpikir positif bahwa ia dapat sembuh atau ia sedang proses penyembuhan dengan berpikir hal yang positif tersebut dengan berulang sehingga menjadi timbul kebiasaan dari individu tersebut untuk selalu berpikir positif. Individu yang selalu berpikir negatif dalam hidupnya akan berisikan penderitaan dan kesulitan (dalam Elfiky, 2018). Pikiran negatif sangat mudah sekali untuk berkembang karena seseorang cenderung menyerah dengan permasalahan yang ia hadapi dan tidak mencoba untuk berpikir positif bahwa semua masalah memiliki jalan keluarnya.

          Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat; antara yang positif dan yang negatif, otak dapat mampu memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihannya. Dalam quwwat al-Tahakkhum fi al-Dzat (dalam Elfiky, 2018) menyatakan bahwa hari ini tergantung pada pikiran yang datang saat ini, besok ditentukan oleh kemana pikiran membawa kita. Dapat diartikan bahwa pikiran yang mengatur bagaiamana kehidupan kita. Pada buku Aladdin Factor (dalam Elfiky, 2018) disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran, yang dibutuhkan oleh pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif, sebaliknya jika arah tersebut ke hal positif makan yang akan keluar dari ruang memori adalah ke arah yang positif dan pada suatu penelitian Fakultas Kedokteran di Amerika menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif dan dalam hitungannya terdapat 48.000 pikiran negatif setiap hari, semua itu turut memengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit.





Daftar pustaka

Argyle, M. (2001). The psychology of happiness (2nd ed.). The Psychology of Happiness (2nd Ed.). https://doi.org/10.4324/9781315812212

Elfiky, Ibrahim. (2018). Terapi Berpikir Positif. Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta.

Seligman, M. E. P. (2002). Authentic Happiness Using the New Positive Psychology to Realise Your Potential for Lasting Fulfilment. Ebl. https://doi.org/10.1073/pnas.85.8.2633


7 komentar:

  1. Wah... mulai skrg harus memperbanyak fikiran positif ya..

    BalasHapus
  2. Semoga selalu di berikan kebahagiaan, dan selalu bisa berpikir positif.

    BalasHapus
  3. Pikiran positif sangat bermanfaat untuk diri kita sendiri. Terima kasih telah berbagi informasi yang penting ini

    BalasHapus
  4. baiklah mulai skrng akan lbh berfikir positif , thank u payopayo luv...

    BalasHapus
  5. sangat bermanfaat sekali, menarik utk diterapkan yeey thankyou

    BalasHapus
  6. Bisa langsung di terapkan nih..
    terima kasih atas tulisannya, sangat bermanfaat 👍

    BalasHapus

Membangun Kesadaran diri dan Resiliensi Psikologis dengan Internet

Pada era digital ini, metode pembelajaran, metode mencari informasi menjadi semakin mudah dikarenkannya perkembangan teknologi yang begi...